Make your own free website on Tripod.com

Tiga Gadis Rusia

          KERETA tua datang dari arah Monte Carlo (sebutan orang Itali untuk Monaco), siiit,...siiit bunyi rem besi mengagetkan daun-daun palm yang berdiri di tepi kios. Tak banyak terlihat orang di stasiun Alassio itu, seorang petugas kereta bertopi biru tua dengan celana hijau menoleh ke jam yang tergantung. Ruangan kereta itu amat luas, kami duduk sekenanya, tanpa banyak rasa ingin tahu, siapa-siapa di kotak kereta itu tak terlalupenting. Siiiut, peluit panjang, memberangkatkan kami. Dua kopor kuselipkan di sela-sela kursi, kami duduk saling berhadapan, depanku wanita bertahi lalat kecil mendaki pipinya yang coklat, dia perawakan Itali. Samping kanan ku seorang laki muda asal India, dia duduk berhadapan denganpacar atau istrinya, tak peduli dengan se kelilingku, aku tetap saja, membungkukkan badan di kursi. Ku ambil buku di tas putih, ku baca, ku bolakbalik, tak ada hasrat, tak ada niat, mungkin capek empat hari berjalan menyusuri pantai utara Itali. Huuuh, tarik nafasku,...pertanda ingin bertapa di alam sunyi.

           ISTRI ku duduk di seberang kursi, dia mantap membaca majalah iklan, jendela kaca tak tersapu bersih, terlihat urat-urat debu bak sungai kekeringan. Ku toleh dia sebentar, lalu mataku terpeleset ke gadis ranum didepannya, di sebelahnya. Gadis kecil-kecil itu lagi sibuk me make-up wajahnya. Yang menempel di jendela, agak berkulit coklat, bermata coklat kehijauan, gadis yang di depan istriku, bermata biru, dia menarik-narik bulu-bulu liar yang hinggap di bawah alis. Kedua gadis itu terus saja, menamparkan lipsticknya yang halus berwarna pink. Kakinya di naikkan sebelah, tampak seperti pohon pisang yang lagi berdiri. Aku teringat pada wayang jawa, yang lebih panjang tangannya dari pada kakinya, berbeda dengan wayang bali, yang ukuran kaki dan tangannya sama, persis kayak manusia.Wayang jawa memanipulasi tubuh, semua bertangan panjang, kecuali semar, yang punya satu tangan. Ku bertanya pada istri dengan bahasa melayu, "Siapa orang-orang ini ?" "Kupu-kupu malam, jawabnya cekak". "Ayam kampong dari mana ?", tanyaku melaju. "Ayam kampong dari timur",...saya sudah bisa tebak, maksud kata timur, adalah eropa timur, karena bahasanya tidak kami fahami. Deg,...deg,...masak isa, bocah-bocah cilik masih ingusan ini akan dijual, lalu ku lanjutkan bertanya lagi. "Berapa umurnya, 15-16 an tahun ?" "Sudah 18", kata istriku.

          SAYA teringat pada berita-berita TV, koran, bila gadis-gadis eropa timur sering di lelang sebagai prostitusi ke negara-negara maju tetangganya. Seorang laki berperut buncit berkaos biru dengan handy ditangan menyeberang deretan kami, ...pronto,...kata pembuka bahasa Itali dalam telpon, dia bercakap-cakap dengan seseorang, ciri khasnya orang Itali tangannya berkiprah kayak penari kecak bali,....handy dimatikan, dia berdiri memandangi panorama luar jendela dengan tak tentu. Gadis muda tadi merogoh kalung kerang yang di ikat anyaman kulit sapi, dia talikan dikakinya yang putih, nggak cukupi, lalu dicobakan di tangan, dan selamanya hinggap di tangan kanan. Gadis yang lain, tampak tenang sederhana, kaos hitamnya serasi dibuat setengah kutang jawa, kedua ujung mulutnya terlihat membelokkan garis, mirip kumisnya sentiaki. Sebungkus rokok tergeletak dimeja yang mungil, seorang gadis menariknya perlahan, dan membakarnya dengan api gas, tak terdengar suara kretek, yang terdengar hanyalah suara; "Entschuldigung, hier ist nicht rauchen, Verstehen Sie ? Do you know, here is non smoking!", kata-kata teguran keluar dari si buncit pronto tadi. Dengan iklas di tumbukkan bakaran api rokok ke sebuah bekas botol aqua, puntungnya yang masih panjang disimpan bersama-sama dengan yang masih utuh. Kedua gadis itu mengerti bila sedang di tegur, maka tak tampak tertawa atau sedih, hanya saling memandang pada gadis yang lebih gedean di samping istriku. Mereka semua bertiga, badannya langsing dan bersih.

         MILANO, kota industri tak banyak yang menarik untuk dilihat, keretapun berhenti disini, ketiga gadis tadi berdiri, menarik tas hitamnya terpaku di atas jendela, lalu hilang dari keramaian. Ku ulangi lagi bertanya pada istri, "Dari mana sebenarnya mereka ?" "Dari Rusia, tampak dari bahasanya dan buku bacaanya, mirip-mirip abjad yunani", sahut istriku. "Masak mereka akan di jual ?", serbuku. "Nggak, melihat cara ber make-up yang descret, saya percaya mereka adalah foto model", bangkrutnya ekonomi Rusia, banyak foto model sana yang lari, sambung istriku.Saya juga lihat yang gadis gedean membagi brosur putih dengan gambarnya dia sendiri, saya tebak dia juga foto model untuk sebuah iklan komersial, beh, foto model kok naik kereta ekonomi, sederhana amat, saya meyakinkan. Kereta meninggalkan Milano menerabas pegunungan Alpen Swiss, masuk tunnel Gotthard, badan sekujur terasa disusupi udara dingin, suatu pertanda kami ada dibelahan dunia yang lain lagi.

tamat

***
karena masih learning by doing, belajar nulis, saya sangat berterima kasih bila ada yg mau memberi inputs2/saran2.
***

salam
bondet

Back to Links